Menjelang hari pernikahanku denganya yang tinggal 4Hari lg, aku merasa gak bisa tenang, tidur pun gelisah. Kemaren tanggal 2Jan16 aku kerumah Ibu camerku. Mulai dari sini lah perasaanku gak tenang, merasa bersalah, merasa gak punya harga diri, merasa bingung, campur aduk.
Ibu berkata beliau tidak bisa hadir karena takut dianggap menyetujui pernikahanku dengan anaknya yg masih berstatus suami dari pernikahannya yg pertama dengan memiliki 3org anak. Jujur, aku merasa kecewa sekali karena aku berharap salah satu dari keluarga calon suamiku bisa hadir. Tapi aq mencoba mengerti dan terima dengan penjelasan yang diberikan dengan sikap tegasnya. Perasaan sedihku dan sakitku kutahan, aku disuruh meminta agar calon suamiku tidak sampai bercerai. Apakah aku bisa seperti itu?? Aku disuruh harus menerima konsekuensinya kalau aku bakal sakit hati ataupun hubungan kami tercium oleh istrinya. Tapi, konsekuesinya dr awal yg q terima dari calon suamiku kan gak seperti itu. Aku dari awal gak tau kalau dy msh berstatus suami 3 anak. Yg q tau dan dia ngakunya status Duda punya 2 anak. Hingga 1tahun terakir ini aku baru mengetahui yg sebenarnya.. Jadi apakah semua sepenuhnya salahku?? Disaat aku mau putus dengannya, dy sampe mau bunuh diri, dan tidak bs dipungkiri karna aku juga sudah terjebak dalam perasaan sayang yg mendalam terhadapnya. Kalau dibilang aq tetap salah, kenapa aq tidak tetap saja meninggalkannya? Ya, disinilah posisi sulitnya aq, disaat aq masih sayang dan dy juga sayang sama aku, dan dia janji akan menyelesaikan urusan cerai nya. Gimana caranya aq bs meninggalkan jauh2 tentang dy..
Tapi aku coba tampung aja apa yg diomongin ibu ke aku. Aku tau ibu sebenarnya gak setuju dengan adanya aku, aku tau ibu lebih prefer istrinya disana. Aku tau apalah aku ini..
Trus, ditambah lagi semalam calon suamiku yg bikin masalah dengan Mamaku karena soal pakai nyebarin undangan.
Aku tau n ngerti banget beib, bebeib takut ketahuan sama yg disana tapi tetap kita harus pakai pikiran dingin. Karena yg tau permasalahan sebenarnya kan cuman aku, mereka gak tau. Jadi alasan bebeib itu gak akan bisa diterima, malah jdnya menimbulkan pencurigaan terhadap status bebeib.
Bebeib takut, lebih takut lagi aku beib... Kebayang kan kalau disaat acara nanti trus tiba2 istrimu datang merusak suasana, ditonton banyak orang... Dimana ditaruh mukaku terhadap keluargaku dan orang2 yang mengenal aku...
Aku bersikap tenang aja beib, tapi dalam otak ku ini dah kacau. Aq berusaha berfikir gimana caranya dan apa yang harus aku lakukan agar perasaanku bisa tenang dan saat acara nanti berjalan lancar. Seandainya blm ada lamaran dan tidak mendekati waktu nikah gini, aq pasti akhiri saja hubungan kita ini, aq pusing n stress mikirin ini semua, aq takut dengan resikonya.
Setiap sholat aq selalu berdoa dan memohon diberikan mukjizat dari Allah.. Aku hanya berharap urusan pernikahanku bisa berjalan lancar aja dulu, karena aku gak mau sampai mempermalukan keluarga dan diriku sendiri. Urusan selanjutnya terserahlah nanti mo gimana jadinya.
Beib, satu2nya cara kita berdoa, dan memohon kepada Allah meminta ditutupkan aib kita masing2. Kalaupun seandainya yg kita takutkan itu terjadi aku gak tau lagi seperti apa jadinya aku, mungkin Allah sudah terlampau marah dengan aku, dengan dosa2 yg q perbuat.
Beibb, kita yang bermain api kita harus terima seandainya asapnya kemana2.
Aku meminta pada Allah, jika aku tidak ditakdirkan hidup dengan mu, aq meminta penyebabnya dari aku. Dan kalau boleh memilih aq mau dipisahkan dengan menjemput ajalku lebih dulu, biar aku gak merasakan sakit karena cinta lagi.
Jikalau doaku terkabul, acara nikahq lancar aq punya hajat puasa senin-kamis dan sujud syukur dan shlat jamaah di mesjid besar di balikpapan ini.
Ya Allah... Kabulkan lah doaku.. Aaamiin..
No comments:
Post a Comment